Makanan Baik Diharamkan untuk Yahudi Sebagai Hukuman

Makanan Baik Diharamkan untuk Yahudi Sebagai Hukuman


Di agama Islam kita mengenal adanya halal-haram dalam makanan kan ya? Tujuan Allah menetapkan makanan halal karena itu baik, tidak menimbulkan mudharat. Sebaliknya, kalau itu diharamkan berarti makanan itu buruk.


Nah, selain Islam di agama Yahudi juga punya standar kehalalan makanan dan minuman, namanya kosher. Apa si kosher itu? Kosher berasal dari bahasa Ibrani (Hebrew) yang berarti makanan halal untuk mereka, karena kosher berarti “layak.”

Kosher dan non-kosher bukan Cuma berlaku ke jenis makanannya, tapi aturan itu juga meliputi proses pembuatan suatu masakan.

Aturan mengenai kosher udah tertulis di dalam kitab Taurat dan di sana ada instruksi untuk pengaplikasian di kehidupan sehari-hari.

Mereka menyampaikan perihal kosher dari mulut ke mulut serta lewat tradisi. Aturan kosher ini ternyata tidak selalu karena demi kebaikan. Maksudnya gimana?

Misalnya di beberapa aturan kosher melarang percampuran beberapa jenis makanan, terutama daging dan produk olahan susu ini ada alasannya, bisa berbeda latar belakangnya dengan aturan yang lain.

Baca Juga: Cara Manfaatkan Daging dan Biji Alpukat untuk Kesehatan

Tiga Kategori Makanan Menurut Aturan Kosher

Jadi ada 3 kategori makanan menurut aturan kosher yang harus dipisah:

Pertama Daging (fleishigs). Kategori pertama ini mencakup aturan sejenis daging mamalia dan unggas serta produk dari keduanya seperti tulang dan kaldu.

Kedua soal Dairy (milchig). Produk olahan susu yang masuk dalam kategori kedua ini termasuk aturan atas susu, keju, butter, dan yogurt.

Terakhir ada Pareve, mencakup aturan seluruh makanan yang tidak termasuk daging atau produk olahan susu. Beberapa di antaranya adalah ikan, telur, dan makanan berbahan dasar tumbuhan yang haram dimakan bersamaan.

Menurut aturan kosher, cara penyajian makanan yang berada dalam kategori daging tidak boleh disajikan atau dikonsumsi bersamaan dengan produk olahan susu.

Tak hanya itu, seluruh peralatan untuk memproses daging dan produk olahan susu harus berbeda dan terpisah. Termasuk tempat mencuci peralatan pun harus dipisahkan, ribet banget ya?

Kalau kalangan Yahudi mengikuti aturan kosher dalam mengonsumsi daging, mereka perlu menunggu beberapa saat sebelum mengonsumsi produk olahan susu. Durasi ini berbeda-beda dalam rentang waktu 1-6 jam.

Menurut mereka, berbagai keharaman mengonsumsi banyak makananan semata-mata untuk menaati kitab taurat, tapi sebenarnya beberapa larangan disebabkan karena kedzoliman, kekufuran serta pembangkangan bani Israil.

Allah kemudian mengadzab mereka dengan mengharamkan makanan yang sebenarnya halal dan baik.

Di surat Al-An’am ayat 146 dijelaskan mengenai lemak hewan yang diharamkan (non-kosher) terhadap umat Yahudi, yaitu lemak domba dan sapi selain yang melekat di punggung atau perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Dalam ayat ini terdapat rahasia yang menarik, mengapa?

Makanan Baik Diharamkan untuk Yahudi

Allah mengharamkan lemak dari kedua hewan tersebut selain yang dikecualikan. Padahal sama-sama lemak dalam satu tubuh binatang, tapi di bagian yang satu dihalalkan atas Yahudi dan di bagian lain diharamkan kepada mereka. Pengharaman ini juga khusus untuk mereka, tidak berlaku untuk umat Islam.

Jika dikembalikan ke tafsir, seperti yang terungkap dalam tafsir Ibnu Katsir. Surat Al-An’am ayat 146 adalah penjelasan dari surat An-Nisa’ ayat 160 yang berbunyi,

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.”

Jelas bahwa pengharaman lemak dari kedua hewan tersebut bukan karena zatnya yang buruk, tapi sebagai balasan atas kezaliman mereka. Lemak itu dinyatakan makanan yang baik-baik dan dulunya halal mereka konsumsi.

Lemak jenis ini dalam bahasa Ibrani disebut kheylev (chelev), dalam bahasa Inggris disebut suet. Di Taurat larangan memakan makanan ini atas Yahudi tercantum pada Leviticus 7: 23-25.

Pengharaman inilah yang mereka plintir terjadi sejak nabi Ya’qub Alaihi Salam, bukan sebagai balasan atas kezaliman mereka, sebagaimana telah diklarifikasi oleh Al-Qur’an yang mulia.

Suet adalah lemak padat dari domba dan sapi yang ditemukan di sekitar ginjal dan area loin (pinggul) dan menjadi bahan baku lemak tallow. Fungsinya untuk konsumsi dan deep frying yang lebih baik dari minyak.

Lalu apakah kezaliman yang dilakukan oleh bani Israil? Yaitu mengubah berbagai perintah Allah, membuat satu hukum tertentu dan diaku-akui hal itu adalah perintah dari Allah, padahal sebetulnya bukan.

“Mereka semua bungkam dan tidak mau mendatangkan Taurat. Ini adalah contoh yang menunjukkan kebohongan yang dibuat oleh orang-orang Yahudi atas nama Taurat dan bagaimana mereka melakukan perubahan terhadap isi kandungan kitab Taurat,”

Demikian Tafsir Al-Muyassar menjelaskan makna Surat Ali Imran ayat 93 yang kemudian dipertegas dengan ayat setelahnya.

Di antara bentuk kedurhakaannya itu telah dijelaskan Allah dalam surat lain, yang berbunyi sebagai berikut

“Sebab kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, maka kami haramkan atas mereka (makanan-makanan) yang baik yang tadinya telah dihalalkan untuk mereka; dan sebab gangguan mereka terhadap agama Allah dengan banyak; dan sebab mereka memakan harta riba padahal telah dilarangnya; dan sebab mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil.” (QS an-Nisa’: 160-161)

Selain diharamkan sesuatu yang halal dengan dikuranginya kenikmatan di dunia, bani Israil ini pernah dikutuk oleh Allah menjadi kera yang hina dan jenis binatang babi.

“Kemudian, ketika mereka bersikeras (melampaui batas) terhadap segala yang dilarang, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” (Al Araf ayat 166)

“Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS Al-Baqarah ayat 65).

Dijelaskan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa sebagian mereka juga dijadikan babi. Beliau mengatakan:
“Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai kera dan babi. Disebutkan bahwa yang masih muda dari kaum tersebut dijadikan kera, dan yang sudah tua dijadikan babi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Sebagian salaf mengatakan, mereka dijadikan kera betulan dan hidup selama 3 hari. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Baghawi:

“Qatadah berkata, “Mereka dijadikan kera-kera muda dan babi-babi tua, kemudian mereka tetap hidup selama 3 hari lalu dibinasakan, tidak ada yang bertahan lebih dari 3 hari, dan mereka tidak ber-reproduksi.” Na’udzubillahi min dzalik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top