Rasa Spesial yang Kita Harus Punya

Kali ini saya mau ngomongin soal rasa yang spesial. Yaitu rasa yang seharusnya selalu ada. Karena tanpa rasa ini, hidup kita akan menjadi hambar. Bukan rasa manis, asin, asam, apalagi pahit tentunya. Jadi rasa apa dong do

Rasa yang harus kita selalu punya ini dikasih tau sama ulama. Imam Nawawi dalam kitab Riyadhush Shalihin pernah nulis kalo para ulama pernah bilang, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Itulah spesialnya rasa malu, beruntunglah orang yang punya rasa malu dan menempatkan sesuai tempatnya. Kata Ali bin Abi Thalib, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.” Nah rasa malu ini dibagi lagi jadi tiga jenis. Ini dia pembagiannya:

Pertama rasa malu yang bersifatnya kaya fitrah. Misalnya, malu kalo ngelihat sesuatu yang melalaikan dari sesuatu yang di benci Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau rasa malu dan geram kalo ada yang ngomong kotor, kasar. Nah itu disebut malu fitrah, karena secara fitrah itu secara otomatis paham, itu tuh tidak baik dan tidak sesuai dengan norma atau syariat.

Kedua ada rasa malu yang sumbernya dari iman. Misalnya, kalo seseorang ngejauh dari perbuatan maksiat dan timbul rasa malu dilihat Allah, ngerasa dipatau gitu. Itulah malu yang bersumber dari iman.

Dan yang terakhir rasa malu yang muncul dari dalam jiwa. Misalnya, malu kalo pikiran kita ga selaras dengan kabaikan. Malu kalo apa yang kita makan itu ga baik cara ngedapatinya atau ga halal dan kalo makanan udah un-thayyib pasti bakal mendarah daging menjadi tabiat yang buruk dan membuat doa ga dikabulin Allah. Malu jenis ini ada hadits yang ngejelasinnya:

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Nabi Allah, kita semua malu dan segala puji milik Allah.” Kemudian Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِن اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan itu yang dimaksud, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu yang pertama kamu menjaga kepalamu dan apa yang ada di sekitar kepalamu, dan kau jaga perutmu dan apa yang masuk ke dalam perutmu, kau mengingat kematian serta kebinasaan, barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaknya dia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa yang sanggup melakukan hal itu maka dia telah malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

Baca Juga: Ternyata Hal Ini yang Membuat Anda Cepat Lapar

Pentingnya Mempunyai Rasa Malu

Dari hadits di atas kita ambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak pastinya akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang punya landasan iman yang kuat kepada Allah. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman yang ngehasilin akhlaq mulia dan ngejadiin benteng untuk kebaikan langkah hidup ini.


Tentang kesejajaran sifat malu dan iman juga dipertegas lagi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ,“Malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar.

Menurut Hakim, hadits ini shahih dengan dua syarat-syarat Bukhari dan Muslim dalam Syu’ban Iman. As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shagir menilai hadits ini lemah)

Sifat malu tidak akan mendatangkan kemudharatan, justru sifat inilah yang membawa kebaikan bagi pemiliknya. “Al-hayaa-u laa ya’tii illa bi khairin.” Yang artinya, “Sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan,” begitu kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Kalo menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab beliau Tazkiyatun Nafs, al-Hayaa’ atau malu adalah turunan dari kata al-Hayaat bahasa arab yang artinya itu (hidup).

Karena hati yang hidup berarti pemiliknya juga memiliki rasa malu. didalamnya terdapat sifat malu yang dapat menghalanginya dari berbagai perbuatan buruk, karena hidupnya hati adalah penghalang dari keburukan yang dapat merusak hati.

Dan menurut penuturan Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang.

Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.

Hakikat rasa malu adalah suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan memperhatikan haknya orang yang memiliki hak. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan sebagaimana dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu.

Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.” Wallahu A’lam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top